Senin, 05 Januari 2015

TEORI PENGEMBANGAN KURIKULUM

A.  Pengertian Teori Kurikulum
Sebelum membahas tentang teori kurikulum, akan dipaparkan terlebih dahulu definisi dari kata teori dan kurikulum. Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.
Sedangkan kurikulum berasal dari bahasa asing –Yunani- yaitu Curriculae yang artinya jarak yang ditempuh oleh seorang pelari. Ada pendapat mengatakan bahwa kurikulum merupakan suatu alat atau sarana untuk  mendapatakan sebuah ijasah sebagai bukti bahwa seorang yang didik telah menempuh segala kurikulum yang telah ditetapkan.
Kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar mengajar yang diikuti oleh peserta didik dalam berbagai tahap dalam pendidikan. 
Menurut ([1]) Saylor, Alexander dan lewis, 1986. Pada hakikatnya, kurikulum sebagai suatu program kegiatan terencana (program of palnned activities) memiliki rentan yang cukup luas, hingga membentuk suatu pandangan yang menyeluruh.
Beberapa penulis kurikulum ([2])Johnson, 1977 dan Posner, 1982 menyatakan bahwa kurikulum seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas, tetapi difokuskan secara langsung pada berbagai hasil belajar yang diharapkan (Intended Learing OutComes) .kajian ini menekankan perubahan cara pandang kurikulum, dari kurikulum sebagai alat (Means) menjadi kurikulum sebagai tujuan atau akhir yang bisa dicapai (ends).
Melihat uraian di atas, dapat ditarik sebuah pemahaman tentang teori kurikulum, yakni suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum.
Selain itu, bahan kajian dari teori kurikulum sendiri adalah hal- hal yang berkaitan dengan penentuan keputusan, penggunaan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kurikulum, dan lain –lain.



B. Pengembangan Teori Kurikulum

Pengembangan teori kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Ada empat asas yang dijadikan landasan dalam pengembangan kurikulum, yakni : asas filosofis, psikologis, sosiologis dan IPTEKS.
Asas filosofis yang berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesuai dengan filsafat negara. Perlu diketahui, bahwa pendidikan bertujuan untuk mendidik peserta didik agar menjadi manusia yang baik, yang ditentukan oleh nilai-nilai , cita-cita atau flsafat yang dianut oleh negara. Kurikulum tidak dapat bila tidak dihubungkan dengan filsafat bangsa dan negara terutama dalam menentukan manusia yang dicita-citakan sebagai tujuan yang harus dicapai melalui pendidikan formal.
Asas psikologis terbagi menjadi dua, yakni : psikologi anak dan psikologi belajar.Psikoloi anak, perlu diketahui bahwa anak memiliki peranan penting di dalam kurikulum. Karena pada dasarnya kurikulum dibuat dan dikembangkan untuk mempersiapkan anak untuk mencapai kematangan dan kedewasaannya. Psikologi belajar, merupakan pengetahuan tentang bagaimana proses belajar dan juga gejala belajar, dari yang sederhana sampai yang pelik. Maka dari itu, kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan cara yang seefektif-efektifnya.
Asas sosiologis. Dalam rana sosiologi telah kita ketahui bahwa anak tidak akan hidup sendiri atau terisolir dari masyarakat. Pembentukkan nilai, norma, serta adat kebiasaan kepada anak sangat perlu ditanamkan sejak dini tentunya saat anak sedang berproses menjadi manusia dewasa. Tiap masyarakat memiliki nilai-nilai dan adat kebudayaan yang berlainan corak. Sehingga, perbedaan ini perlu dipertimbangkan dalam kurikulum.
Asas IPTEKS. Teknologi dan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan, karena teknologi tidak akan ada bila ilmu tidak ada. Secara garis besar, teknologi dibagi menjadi dua, yakni : teknologi tinggi dan teknologi rendah. Agar dapat menguasai teknologi tinggi, diperlukan adanya SDM yang memadai. SDM tersebut bisa dididik dan dilatih di sekolah luar negeri atau dalam negeri dengan menggunakan kurikulum yang didukung dengan sarana/parasarana serta tenaga pendidik yang handal
.
C. Sub Teori Kurikulum
Ada dua sub teori dari teori kurikulum yaitu desain kurikulum dan rekayasa kurikulum. Desain kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Dalam desain kurikulum akan tergambar unsur-unsur dari kurikulum, hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya, prinsip-prinsip pengorganisasian, serta hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaannya. Dalam desain kurikulum, ada dua dimensi penting, yaitu (a) substansi, unsur-unsur serta organisasi dari dokumen tertulis kurikulum, (b) model pengorganisasian dan bagian-bagian kurikulum terutama organisasi dan proses pengajaran.
Menurut ([3])Beauchamp, kurikulum mempunyai tiga karakterisitik, yaitu : (a) kurikulum merupakan dokumen tertulis, (b) berisi garis-garis besar rumusan tujuan, berdasarkan garis-garis besar tujuan tersebut desain kurikulum disusun, (c) isi atau materi ajar, dengan materi tersebut tujuan-tujuan kurikulum dapat dicapai.
Ada dua hal yang perlu ditambahkan dalam desain kurikulum. Pertama, ketentuan-ketentuan tentang bagaimana penggunaan kurikulum, serta bagaimana mengadakan penyempurnaan-penyempurnaan berdasarkan masukan dari pengalaman. Kedua, kurikulum itu dievaluasi, baik bentuk desainnya maupun sistem pelaksanaannya.
Rekayasa kurikulum berkenaan dengan bagaimana proses memfungsikan kurikulum di sekolah, upaya-upaya yang perlu dilakukan para pengelola kurikulum agar kurikulum dapat berfungsi sebaik-baiknya. Pengelola kurikulum di sekolah terdiri atas para pengawas/pemilik dan kepala sekolah, sedangkan pada tingkat pusat adalah Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum Balitbang Dikbud dan para Kasubdit/Kepala Bagian Kurikulum di Direktorat. Dengan menerima pelimpahan wewenang dari Menteri atau Dirjen, para pejabat pusat tersebut merancang, mengembangkan, dan mengadakan penyempurnaan kurikulum. Juga mereka memberi tugas dan tanggun jawab menyusun dan mengembangkan berbagai bentuk pedoman dan petunjuk pelakasanaan kurikulum.
Seluruh sistem rekayasa kurikulum menurut Beauchamp mencakup lima hal, yaitu (a)arena atau lingkup tempat dilaksanakannya berbagai proses rekayasa kurikulum, (b)keterlibatan orang-orang dalam proses kurikulum, (c)tugas-tugas dan prosedur perencanaan kurikulum, (d)tugas-tugas dan prosedur implementasi kurikulum, dan (e)tugas-tugas dan prosedur evaluasi kurikulum.

D.  Prinsip dalam pengembangan Kurikulum
Ada lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yakni prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis dan efektifitas. 1) Prinsip relevansi terbagi menjadi dua : relevansi ke Luar dan ke dalam. Relevansi ke luar maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebuuhan, dan perkembangan masyarakat. Sedangkan relevansi ke dalam yaitu adanya kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian. Relevansi ke dalam ini menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.
2) Prisip fleksibilitas, kurikulum hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel. Suatu kurikulum yang baik adalah kurikulum yag berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.
3) Prinsip kontinuitas yaitu kesinambungan. Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau terhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengan tingkat kelas lainnya, juga antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan.
4) Prinsip praktis yaitu mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi.kurikulum dan pendidikan selala dilaksanaan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum bukan hanya harus ideal tetapi juga praktis.
Yang terakhir 5) Prinsip efektifitas. Walaupun kurikulum tersebut harus murah dan sederhana tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kualitas dan kuantitas. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia
Secara umum, perubahan dan penyempurnaan kurikulum dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Perubahan kurikulum tersebut dilakukan agar kurikulum tidak ketinggalan dengan perkembangan masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologinya. Kurikulum yang pernah diberlakukan secara nasional di Indonesia dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel Kronologis Perkembangan Kurikulum di Indonesia
Tahun
Kurikulum
Keterangan
1947
Rencana Pelajaran 1947
Kurikulum ini merupakan kurikulum pertama di Indonesia setelah kemerdekaan.
Istilah kurikulum masih belum digunakan. Sementara istilah yang digunakan adalah Rencana Pelajaran
1954
Rencana Pelajaran 1954
Kurikulum ini masih sama dengan kurikulum sebelumnya, yaitu Rencana Pelajaran 1947
1968
Kurikulum 1968
Kurikulum ini merupakan kurikulum terintegrasi pertama di Indonesia. Beberapa masa pelajaran, seperti Sejarah, Ilmu Bumi, dan beberapa cabang ilmu sosial mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies). Beberapa mata pelajaran, seperti Ilmu Hayat, Ilmu Alam, dan sebagainya mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahun Alam (IPS) atau yang sekarang sering disebut Sains.
1975
Kurikulum 1975
Kurikulum ini disusun dengan kolom-kolom yang sangat rinci.
1984
Kurikulum 1984
Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1975
1994
Kurikulum 1994
Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1984
2004
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum ini belum diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Beberapa sekolah telah dijadikan uji coba dalam rangka proses pengembangan kurikulum ini
2008
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
KBK sering disebut sebagai jiwa KTSP, karena KTSP sesungguhnya telah mengadopsi KBK. Kurikukulum ini dikembangkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan).

KOMENTAR SAYA :
Pengembangan kurikulum merupakan hal yang wajib dilakukan untuk kemajuan sistem pendidikan. Terutama di Indonesia ini terkadang sudah di tetapkan suatu kurikulum nasional, namun masih ada lembaga pendidikan yang kurang menerapkan kurikulum nasional tersebut karena dianggap memberatkan. Kurikulum diperuntukkan untuk pendidikan dan harus berkembang sesuai dengan perkembangan dunia.
Sekarang ini kita bisa melihat bahkan dapat merasakan bahwa pendidikan di Indonesia jauh tertinggal di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dibandingkan dengan bangsa Eropa dan Barat. Dari sinilah ada  peranan pengembangan kurikulum  baik dalam pendidikan formal maupun pendidikan non-formal. Pengembangan kurikulum juga harus menyesuaikan keadaan masyarakat yang pastinya berlatar belakang yang tidak sama. Maka dari itu pengembangan kurikulum hendaknya melibatkan masyarakat didalamnya.agar terbentuk kurikulum yang ideal dan sesuai dengan kebutuhan bersama.
Hakikat kurikulum adalah program yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal tersebut akan dirasakan apabila di terapkan atau di aplikasikan, pengaplikasian itu akan semakin terarah jika sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan dan hasilnya tersebut akan memeberikan masukan untuk penyempurnaan rancangann. Itulah hakikat kurikulum yang selalu berkembang, berjalan seiring dengan zaman dan membentuk suatu siklus.
Oleh karena itu pengembangan kurikulum perlu memperhatikan beberapa hal:
 a) Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
b) Tuntutan dunia kerja.
c) Aturan agama, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
d) Dinamika perkembangan global.
e) Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
            Dalam melakukan pengembangan kurikulum, jika memperhatikan hal-hal tersebut di atas, maka akan menghasilkan peserta didik yang memiliki kepribadian sebagai seorang muslim dan mampu menyesuaikan diri di mana mereka hidup di tengah-tengah masyarakat
Kurikulum memiliki peranan yang sangat strategis dalam pencapaian tujuan pendidikan. Terdapat tiga peranan kurikulum yang dinilai sangat penting, yaitu peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif, dan peranan kreatif. Ketiga peranan kurikulum tersebut harus berjalan seimbang dan harmonis untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Pelaksanaan ketiga peranan kurikulum menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan.



[1] Saylor, Alexander dan lewis, 1986.
[2] Johnson, 1977 dan Posner, 1982
[3] Beauchamp

JENIS JENIS ORIENTASI KURIKULUM


A.     Orientasi pada mata pelajaran (subject centered)
1.      Mata Pelajaran Terpisah-pisah (Separate Subject Curriculum)
Dalam subject centered, kurikulum ini bertujuan agar generasi muda mengenal hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan sejak berabad-abad, agar mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali apa yang telah diperoleh generasi-generasi dahulu. Dengan demikian mereka lebih mudah dan lebih cepat membekali diri untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupannya. Kurikulum ini masih sangat umum dipakai dimana-mana karena banyak mengandung keuntungan-keuntungan, namun banyak pula kelemahan-kelemahannya ditilik dari sudut pendidikan modern. Keberatan-keberatan yang sering diajukan tentu saja bertalian erat dengan pandangan seseorang mengenai pendidikan dan pengajaran. Kelemahan-kelemahan kurikulum ini ialah:
a)      Kurikulum ini memberikan mata pelajaran yang lepas-lepas yang tidak berhubungan satu dengan yang lain.
b)      Kurikulum ini tidak memperhatikan masalah-masalah sosial yang dihadapi anak-anak dalam kehidupannya sehari-hari.
c)      Kurikulum ini menyampaikan pengalaman umat manusia yang lampau dalam bentuk yang sistematis dan logis. Sesuatu yang logis tidak selalu psikologis ditinjau dari segi minat dan perkembangan anak.
d)      Tujuan kurikulum ini terlampau batas.
e)      Kurikulum ini kurang mengembangkan kemampuan berpikir.
f)       Kurikulum ini cenderung menjadi statis dan ketinggalan zaman.



2. Mata pelajaran gabungan (Correlated Curriculum)
Correlated  berasal dari kata correlation yang dalam bahasa Indonesia berarti korelasi yaitu adanya hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Pokok bahasan atau sub pokok bahasan dapat tuntas dan menyeluruh. Korelasi bidang studi tersebut dapat terjadi sebagai berikut:
Korelasi dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara:
a.       Korelasi antarpokok bahasan dalam bidang studi yang sejenis.
b.      Korelasi antarpokok bahasan di luar bidang studi yang tidak sejenis.[3]
c.       Dapat pula beberapa matapelajaran disatukan (Broad Fields).[4]
3.      Pola pengelompokkan mata pelajaran serumpun (Broad Fields)
Broad Fields itu menyatukan beberapa matapelajaran yang berdekatan atau berhubungan menjadi satu bidang studi.[5]
Beberapa Keuntungan dari Kurikulum-kurikulum ini, ialah:
a.       korelasi memajukan integrasi pengetahuan pada murid-murid. Mereka mendapat informasi mengenai suatu pokok tertentu tidak secara terpisah-pisah dalam berbagai matapelajaran pada waktu yang berbeda-beda, akan tetapi dalam satu pelajaran, dimana pokok itu disoroti dari berbagai disiplin matapelajaran tertentu. Dengan demikian pengetahuan mereka tidak lepas-lepas, melainkan bertautan, berpadu.
b.      Minat murid bertambah apabila ia melihat hubungan antara matapelajaran-matapelajaran
c.       Pengertian murid-murid tentang sesuatu lebih mendalam, apabila didapat penjelasan dari berbagai matapelajaran
d.      Korelasi memberikan pengertian yang lebih luas karena diperoleh pandangan dari berbagai-bagai sudut dan tidak hanya dari satu matapelajaran saja
e.       Korelasi memungkinkan murid-murid menggunakan pengetahuannya lebih fungsional. Mereka mendapat kesempatan menggunakan pengetahuan dari berbagai matapelajaran guna memecahkan suatu masalah.
f.       Korelasi antara matapelajaran lebih mengutamakan pengertian dan prinsip-prinsip daripada pengetahuan dan penguasaan fakta-fakta.
Kelemahan-kelemahan kurikulum-kurikulum ini ialah :
a.       Tidak menggunakan bahan yang langsung berhubungan dengan kebutuhan dan minat anak-anak serta dengan masalah-masalah yang hangat yang dihadapi murid-murid dalam kehidupannya sehari-hari
b.      Tidak memberi pengetahuan yang sistematis serta mendalam mengenai pelbagai matapelajaran
c.       Guru sering tidak menguasai pendekatan inter-disipliner



B. Orientasi pada Siswa (Student centered)
1.      Kurikulum berpusat pada anak didik (Student centered)
Di dalam pendidikan atau pengajaran yang belajar dan berkembang adalah peserta didik sendiri. Guru atau pendidik hanya berperan menciptakan situasi belajar mengajar, mendorong dan memberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Peserta didik bukanlah tiada daya, dia adalah suatu organisme yang punya potensial untuk berbuat, berperilaku, belajar dan juga berkembang sendiri. Student Centered bersumber dari konsep Rousseau menekankan perkembangan peserta didik. Pengorganisasian kurikulum didasarkan atas minat, kebutuhan dan tujuan peserta didik. Ada variasi model ini, yaitu Activity atau Experience Centered.
2.      Kurikulum berpusat pada pengalaman (The Activity atau Experience Centered)
Beberapa ciri utama Activity atau Experience. Pertama, Struktur kurikulum ditentukan oleh kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam mengimplementasikan ciri ini guru hendaknya:
a) Menemukan minat dan kebutuhan peserta didik, b) Membantu para siswa memilih mana yang paling penting dan urgen. Kedua, karena struktur kurikulum didasarkan atas minat dan kebutuhan peserta didik, maka kurikulum tidak dapat disusun jadi sebelumnya, tetapi disusun bersama oleh guru dengan para siswa. Ketiga, desain kurikulum tersebut menekankan prosedur pemecahan masalah.
Ada beberapa kelebihan dari kurikulum ini, yaitu:
a.       kegiatan pendidikan didasarkan atas kebutuhan dan minat peserta didik. 
b.      pengajaran memperhatikan perbedaan individual. Mereka turut dalam kegiatan belajar kelompok karena membutuhkannya, demikian juga kalau mereka melakukan kegiatan individual.
c.       kegiatan-kegiatan pemecahan masalah memberikan bekal kecakapan dan pengetahuan untuk menghadapi kehidupan di luar sekolah.
Ada beberapa kelemahan dari model disain kurikulum ini, yaitu:
a.       Penekanan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik belum tentu cocok dan memadai untuk menghadapi kenyataan dalam kehidupan.
b.      Kurikulum hanya menekankan minat dan kebutuhan peserta didik. Kurikulum tidak mempunyai pola dan struktur. Kedua kritik ini tidak semuanya benar, sebab beberapa tokoh activity design telah mengembangkan struktur ini. [7]

C.     Orientasi pada Tujuan (Goal centered)
Desain kurikulum yang berorientasi tujuan adalah kurikulum berpusat pada tujuan (goal-oriented) dan kurikulum berbasis kompetensi (competence-based)
1.      Kurikulum yang berorientasi pada tujuan (Goal Oriented)
Masing-masing tujuan yang ada di bawahnya terkait secara langsung dengan tujuan yang ada di atasnya. Penyusunan kurikulum dengan orientasi berdasarkan tujuan, artinya bahwa tujuan pendidikan dicantumkan terlebih dahulu. Tujuan pendidikan di Indonesia tertera pada GBHN. Atas dasar tujuan-tujuan yang telah ada, selanjutnya ditetapkan pokok-pokok bahan pelajaran dan kegiatan belajar mengajar, yang kesemuanya itu diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Pengembangan kurikulum yang menganut pendekatan berorientasi pada tujuan ini mendasarkan diri pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan secara jelas dari tujuan nasional sampai tujuan instruksional. Dalam hal ini kegiatan pertama adalah merumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang akan dilaksanakan dan dicapai melalui kegiatan belajar mengajar mengajar. Tujuan-tujuan pendidikan yang dirumuskan biasanya bersifat menyeluruh, mencakup aspek-aspek, mulai aspek pengetahuan, nilai-nilai, keterampilan maupun sikap. Dalam pengembangan semacam ini yang menjadi persoalan adalah menentukan tujuan-tujuan atau harapan apa yang diinginkan dari tercapainya hasil pembelajaran tersebut. Pengembangan kurikulum yang semacam ini di Indonesia adalah kurikulum 1975. Berdasarkan tujuan yang dirumuskan tersebut maka disusun atau diterapkanlah bahan pelajaran yang meliputi pokok-pokok dan sub-sub pokok bahasan sehingga lebih terarah.
Adapun beberapa kelebihannya, yaitu :
a)      Tujuan yang ingin dicapai sudah jelas dan tegas, sehingga bahan, metode, jenis-jenis kegiatan juga jelas dalam menetapkannya. Karena telah ada tujuan-tujuan yang jelas maka memudahkan penilaian- penilaian untuk mengukur hasil kegiatan.
b)      Hasil penilaian yang terarah akan mampu membantu para pengembang kurikulum mengadakan perbaikan-perbaikan / perubahan-perubahan penyesuaian yang diperlukan.[8]
2.      Kurikulum Berbasis Kompetensi (Competence Based)
Karakteristik KBK antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menetukan kesuksesan pencapaian kompetensi dan pengembangan sistem pembelajaran. Sehubungan dengan itu Depdiknas (2002) mengemukan bahwa kurikulum berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut : 
a.       Menekankan pada kecakapan kompetensi baik secara individu maupun klasikal. 
b.      Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. 
c.       Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. 
d.       Sumber belajar bukan hanya pendidik tetapi juga sumber lain yang memenuhi unsur edukatif.
Pengembangan KBK mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan model-model kurikulum sebelumnya. Pertama, KBK bersifat alamiah (konstekstual), karena berangkat berfokus dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Dalam hal ini peserta didik merupakan subjek belajar dan proses belajar berlangsung secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan standar kompetensi tertentu, bukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge).

Kedua, KBK boleh jadi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan ilmu pengetahuan dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan  memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan standar kompetensi tertentu. Ketiga, ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan ketrampilan.[9]



D.     Orientasi pada Masalah (Problem centered)
Problem Centered menekankan manusia dalam kesatuan kelompok yaitu kesejahteraan masyarakat. Konsep pendidikan para pengembang model kurikulum ini berangkat dari asumsi bahwa manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama. Dalam kehidupan bersama ini manusia menghadapi masalah-masalah bersama yang harus dipecahkan bersama pula. Mereka berinteraksi, berkooperasi dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang mereka hadapi untuk meningkatkan kehidupan mereka.
Problem Centered menekankan pada isi maupun perkembangan peserta didik. Ada dua variasi model desain kurikulum ini, yaitu:
1.      Kurikulum yang berorientasi pada situasi hidup (Life Situations)
Life situations seperti Student Centered menekankan prosedur belajar melalui pemecahan masalah. Ciri lain dari model desain ini adalah menggunakan pengalaman dan situasi-situasi nyata dari peserta didik sebagai pembuka jalan dalam mempelajari bidang-bidang kehidupan.
Tiap pengalaman peserta didik sangat erat hubungannya dengan bidang-bidang kehidupan sehingga dapat dikatakan suatu desain kurikulum bidang-bidang kehidupan yang dirumuskan dengan baik akan merangkumkan pengalaman-pengalaman sosial peserta didik. Dengan demikian, desain ini sekaligus menarik minat peserta didik dan mendekatkannya pada pemenuhan kebutuhan hidupnya dalam masyarakat. 
Adapun beberapa kelebihan-kelebihannya dibandingkan dengan bentuk-bentuk desain lainnya, yaitu:
a)      Pemisahan antara subject dihilangkan oleh problema-problema kehidupan sosial.

b)      Kurikulum diorganisasikan di sekitar problema-problema peserta didik dalam kehidupan sosial, maka desain ini mendorong penggunaan prosedur belajar pemecahan masalah.
c)      Menyajikan bahan ajar dalam bentuk yang fungsional
d)      Motivasi belajar datang dari dalam diri peserta didik, tidak perlu dirangsang dari luar.
Adapun beberapa kelemahan-kelemahannya, yaitu:
a)      Penentuan lingkup dan sekuens dari bidang-bidang kehidupan yang sangat esensial (penting) sangat sukar, timbul organisasi isi kurikulum yang berbeda-beda.
b)      Kurangnya integritas dan kontinuitas organisasi isi kurikulum.
c)      Mengabaikan warisan budaya
d)      Guru maupun buku dan media lain tidak banyak yang disiapkan.[10]

2.      Kurikulum yang berorientasi pada rekonstruksi sosial (Social Reconstruction)
Kurikulum ini lebih menekankan pada problem-problem yang dihadapi murid dalam kehidupan masyarakat. Konsepsi kurikulum ini mengemukakan bahwa pendidikan bukanlah upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi dan kerja sama. Interaksi itu terjadi pada siswa dengan guru, siswa dengan siswa, siswa dengan orang dilingkungannya dan sumber-sumber belajar lainnya. Dengan kerja sama semacam ini, siswa dapat berusaha memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam masyarakat dapat menjadi masyarakat yang lebih baik.
Kurikulum rekonstruksi sosial ini adalah model kurikulum yang lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Melalui interaksi dan kerja sama antara guru dan peserta didik berusaha memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik. Kelemahan dari kurikulum rekonstruksi sosial adalah sukar diterapkan dan kemampuan siswa berbeda-beda
Ada beberapa ciri dari desain kurikulum ini :
a)      Tujuan utama kurikulum rekonstruksi sosial adalah menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia.
b)      Masalah-masalah sosial yang mendesak. Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak.
c)      Pola-pola organisasi. Pada tingkat sekolah menengah, pola organisasi kurikulum disusun seperti sebuah roda, masalah sebagai tema utama terletak pada poros untuk dibahas secara pleno, tema utama tersebut dijabarkan dalam topik-topik yg dibahas secara berkelompok.

KOMENTAR SAYA :


Jenis-jenis kurikulum mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Sebenarnya dari masing-masing jenis kurikulum ini sudah di fikirkan secara matang sebelumnya walaupun pada akhirnya masih saja ada yang menghalangi dalam proses serta hasilnya. 

BENTUK BENTUK KURIKULUM

BENTUK-BENTUK KURIKULUM
Bentuk-bentuk kurikulum diantaranya sebagai berikut :
1.      WRITTEN KURIKULUM
Merupakan kurikulum yang sudah terprogram dan terstruktur secara sistematis dan tertulis sebagai acuan kegiatan pendidikan. Seperti halnya silabus.
2.       HIDDEN KURIKULUM 
Menunjuk kepada segala sesuatu yang dapat berpengaruh di dalam berlangsungnya pengajaran dan pendidikan, yang mungkin meningkatkan atau mendorong atau bahkan melemahkan usaha pencapaian tujuan pendidikan. Dengan kata lain, konsep hidden curriculum menunjuk pada praktek dan hasil persekolah yang tidak diuraikan dalam kurikulum terprogram atau petunjuk kurikulum kebijakan sekolah, namun merupakan bagian yang tidak teratur dan efektif mengenai pengalaman sekolah.
Hidden (ketersembunyian) merupakan aspek alamiah dalam hal yang berhubungan dengan pengalaman sekolah? pertanyaan ini perlu dimengerti dan dipahami oleh setiap pihak yang berkepentingan dengan pendidikan dan kurikulum. Namun pertama-tama seyogyanya kita mengerti apa arti hidden curriculum.
Kurikulum tersembunyi (the hidden curriculum) adalah kurikulum yang tidak direncanakan. [1]Hilda Taba mengatakan “curriculum is a plan for learning”, yakni aktivitas dan pengalaman anak di sekolah harus direncanakan agar menjadi kurikulum. Ada juga yang berpendapat bahwa kurikulum sebenarnya mencakup pengalaman yang direncanakan dan juga yang tidak direncanakan, yang disebut kurikulum tersembunyi. Anak didik mempunyai aturan tersendiri sebagai reaksi terhadap kurikulum formal seperti tentang mencontek, membuat pekerjaan rumah, menjadi juara kelas, sikap terhadap guru, mencari strategi belajar yang efektif, dan banyak lagi hal lainnya.

Beberapa ahli pendidikan juga mencoba menelaah hidden curriculum. Seperti [2]A. V. Kelly dalam buku The Curriculum menjelaskan bahwa, :
Some educationist speak of the hidden curriculum, by which they mean those thing which pupils learn at school because of the way in which the work of the school is planned and organized, and through, the materials provided, but which are not in themselves overtly included in the planning or even in the consciousness of those responsible for the school arrangements. Social roles, for example, are learnt in this way, it is claimed, as are sex roles and attitudes to many other aspects of living. Implicit in any set of arrangements are the attitudes and values of those who create them, and these will be communicated to pupils in this accidental and perhaps even sinister way. This factor is of course of particular significance when the curriculum is planned and imposed by government.
“Beberapa ahli pendidikan berbicara tentang kurikulum tersembunyi, dengan apa yang mereka maksud dengan hal yang siswa pelajari di sekolah. Karena cara dimana pelajaran/pekerjaan sekolah yang direncanakan dan diatur melalui materi yang disediakan/diberikan, tetapi apa yang tidak ada pada diri mereka pada lahirnya termasuk dalam perencanaan atau meskipun kesadaran akan tanggung jawab pada susunan sekolah. Peran sosial, contohnya dipelajari dengan cara ini, itu diklaim sebagaimana peran dan sikap seseorang berdasar jenis kelamin terhadap aspek kehidupan lainnya. Implisit disetiap wacana/susunan yaitu sikap dan nilai yang membuatnya, dan ini akan disampaikan kepada siswa secara kebetulan atau mungkin dengan cara menakutkan. Faktor ini pasti berarti ketika kurikulum direncanakan dan ditentukan oleh pemerintah”.
Menurut [3]Overly dan Valance, dalam Subandijah, hidden curriculum meliputi kurikulum yang tidak dipelajari, hasil persekolahan non-akademik. Dalam kaitan ini, banyak para ahli kurikulum yang mengajukan konsepsi maupun pengertian hidden curriculum, misalnya:
[4]Kolhberg mengidentifikasikan hidden curriculum sebagai hal yang berhubungan dengan pendidikan moral dan peranan guru dalam mentransformasikan standar moral.
Menurut Kritisi sosial seperti [5]Goodman, friedenberg, Reiner dan Illich menggunakan konsepsi hidden curriculum sebagai aturan untuk mengidentifikasikan dan menjelaskan penguatan sekolah mengenai struktur kelas dan norma sosial tertentu.
Kepustakaan:
Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, (Jakarta: PT Raja Grafindo,1996). Abdullah Idi, Pengembangan KurikulumTeori dan Praktik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007). A. V. Kelly, The curriculum, (London: SAGE Publications Limited, 2006)



3.      IDEAL KURIKULUM DAN ACTUAL KURIKULUM

PENGERTIAN
Kurikulum ideal, yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu yang dicita citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum.
Kurikulum aktual, yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan. Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar.   
Jadi, Kurikulum ideal adalah kurikulum yang diharapkan dapat dilaksanakan dan berfungsi sebagai acuan atau program guru dalam proses belajar mengajar. Karena kurikulum ini menjadi pedoman bagi guru maka kurikulum ini juga disebut kurikulum formal atau kurikulum tertulis (written curriculum). Namun dalam prakteknya pelaksanaan kurikulum ideal mengalami beberapa hambatan dalam pelaksanaanya. Diantaranya adalah sarana dan prasarana, kemampuan guru serta kebijaksanaan sekolah/kepala sekolah. Karena hal tersebut maka guru hanya bisa melakukan kurikulum sesuai dengan keadaan yang ada. Inilah yang disebut kurikulum Aktual. Semakin jauh jarak antara kurikulum ideal dengan aktual maka dapat diperkirakan makin buruklah kualitas pendidikan di sekolah tersebut demikian juga sebaliknya.
Landasan Kurikulum Ideal dan Aktual
Kurikulum yang ideal dan dan aktual harus disusun berlandaskan dasar sosiologis agar tercipta keseimbangan diantara keduanya dan terciptalah tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Implementasi Kurikulum Ideal dan Aktual
Implemnetasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diuji coba dengan pelaksanaan dan pengelolaan, dengan senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional, serta fisiknya.
Adapun tahapan implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu:
a.           Pengembangan program, mencakup program tahunan, semester, bulanan, mingguan, dan harian. Selain itu ada juga program bimbingan dan konseling atau program remedial.
b.           Pelaksanaan pembelajaran, pada hakikatnya pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik tersebut.
c.           Evaluasi, proses yang dilaksanakan sepanjang proses pelaksanaan kurikulum semester serta penilaian akhir formatif dan sumatif mencakup penilaian keseluruhan secara utuh untuk keperluan evaluasi pelaksaaan kurikulum.



4.      NULL KURIKULUM
Merupakan kurikulum ekstra yang tidak terencana dan tidak tertulis seperti halnya silabus.


KOMENTAR SAYA :
Bentuk-bentuk Kurikulum ada 4 yang utama. Antara satu bentuk dengan bentuk lainnnya mempunyai keterkaitan tujuannya.



[1] Hilda Taba
[2] A. V. Kelly
[3] Overly dan Valance, (Jakarta: PT Raja Grafindo,1996).
[4] Kolhberg
[5] Goodman, friedenberg, Reiner dan Illich