Sabtu, 16 Mei 2015

Putus atau lanjut?

Putus Atau Lanjut? - Putus nyambung putus nyambung putus nyambung, sekarang putus, besoknya menyesal #eak (nyanyi). Hemm yaa dalam pacaran pasti ada aja yang namanya putus nyambung. Karena emang selalu aja ada masalah dalam pacaran, entah pacarnya tukang ngambek, terlalu suka ngatur - ngatur, wajahya kurang cantik #eh atau bahkan mungkin terlalu cantik kaya saya (~‾ ▽‾)~. Hahahaha #ngimpi
Hemm yaa memang tiap masalah pasti ada aja jalan keluarnya toh, tapi sering kali jalan keluar yang harus ditempuh itu cukup berat, atau mungkin sangat -  sangat berat sekali. Tapi meskipun tergolong sangat - sangat berat sekali, tetep aja jalan itu mesti kamu tempuh demi kebaikan kamu sendiri pemirsa. Dan tiap masalah itu punya jalan keluar yang beda - beda loh pemirsa. Kalo dalam hal pacalan #eh pacaran, dilema yang sering kali terlintas di pikiran saat sedang menghadapi masalah ada dua pilihan, antara bertahan atau harus di akhiri.
Nah bagi yang mengalami dilema antara harus putus atau tetap lanjut dalam pacaran ini, saya bakal kasih sedikit opini tentang hal tersebut di blog ini. Pastinya biar pemirsa pembaca gak galau dong Hohoho. Sebelumnya siapin snack dulu ya, pastikan suasana juga lagi tenang biar enak bacanya. Duduk yang manis di depan layar, lambaikan tangan ke kamera kalau merasa tidak kuat #eh. Udah siap? Yuk kita mulai bahas di TKP :D
Pertahankan atau akhiri hubungan ini?
Yaa memang dilema macam itu sudah sangat sering dialami oleh hampir semua orang yang pernah pacaran. Hayoo pemirsa pernah pacaran gak? Hihihi :P Yaa emang sih pacaran itu gak wajib, dan kita gak akan mati kok cuma karena gak punya pacar. Iya gak pemirsa? Nah kembali ke topik. Apa aja sih kriteria bagi sepasang kekasih untuk tetap melanjutkan hubungannya atau harus mengakhirinya? Berikut  langsung dari TKP :
Apakah hubungan ini bisa dipertahankan?
Beberapa hal yang bisa dipertimbangkan untuk melanjutkan hubungan adalah sebagai berikut :
Pasangan kita adalah orang yang baik
Kata "BAIK" disini bukan berdasarkan penilaian kamu semata ya pemirsa. Soalnya, orang yang lagi demen ama orang lain itu biasanya "dibutakan" atau kasarnya adalah "dibodohi" oleh perasaan sendiri. Sejelek apapun sifat dia, kamu akan tetap menilainya "BAIK". Jadi, untuk mengetahui si dia baik atau nggak, ada baiknya kamu gunakan ketenangan saat berpikir, dan yang pasti GUNAKAN LOGIKA. Tapi kalo gak mampu pikir pake logika, lebih baik kamu tanya pendapat orang lain, temen kamu misalnya. Dan inget, apapun jawaban temen kamu, kamu harus terima. Kalo temen kamu bilang dia itu gak baik, ya kamu harus terima pendapat itu, jangan malah membantah dan membela si dia. Kalo kaya gitu percuma donk kamu nanya ama mereka. Tapi kayanya kebangetan banget deh kalo kamu gak bisa mikir pake logika. Makanya kalo sekolah belajar yang bener biar pinter, jangan pacaran mulu :P #IniCiyusLoh
Nah kriteria baik itu ada banyak, biasanya tingkat kesabaran dan tingkat egoisme adalah penilaian paling menonjol. Kalo si dia itu orangnya sabar, gak egois dan masuk kriteria baik lainnya, ada baiknya kamu pertahankan hubungan itu. Karena kriteria orang macem itu agak langka loh, jadi orang kaya gitu termasuk spesies yang dilindungi karena terancam punah #eh.
Pasangan kita orang yang setia
Nah yang satu ini juga termasuk spesies langka yang harus dilindungi loh pemirsa. Karena jaman sekarang, pasangan yang model begini udah sangat jarang ditemukan dan terancam punah. Kalo kriteria setia sendiri sih ada banyak ya. Biasanya orang menilai dari jumlah pasangan nya, kalo satu ya setia, kalo banyak brati nggak setia. Itu ada benarnya ada nggaknya loh. Iya emang pacarnya cuma satu, kalo TTM-an nya 5? Pacar cuma satu tapi istri ada 9 kaya eyang ***** gimana? Setia? Pikir lagi deh kalo bilang yang model begitu = setia.
Pasangan kita serius dengan hubungan kita
Serius disini dalam arti gak mempermainkan hubungan kita. Dan itu penilaiannya sangat sulit
karena di luaran sana banyak penjahat - penjahat "*******" yang menggunakan atau ngaku - ngaku serius sama kita, tapi setelah "dapet" langsung dicampakkan atau dipermainkan. Kalo istilahnya "habis manis sepah dibuang" Ini bagi yang cewek harus paham maksud mimin yang itu dan harus waspada sama cowok macem gini. Kalo belum paham, tanya langsung via twitter blog ini @istihanyarofah Tapi sering kali juga penjahat - penjahat itu tidak langsung mencampakkan kita untuk menyemarkan modusnya. Blak - blakan aja ya, jadi modusnya biasanya kita "dimanfaatkan sampai dia puas", baru deh dia cari selingkuhan atau ngilang tiba - tiba, atau minta putus (karena udah bosen).
Jadi emang buat cewek, yang satu ini harus diperhatikan dengan sangat karena sangat rawan. Bukti keseriusan hubungan adalah nikah, jadi sebelum nikah, jangan mau diapa - apain, rugi kamunya nanti. Toh belum tentu dia bakal jadi suami kita kan? Maaf jadi keluar topik dikit, buat memperingatkan aja. Tapi kalo pasangan kamu udah termasuk kriteria diatas dan kamu masih sering putus nyambung, coba kamu instrospeksi diri deh, siapa tau ada yang salah di dalam dirimu.
Hubungan harus diakhiri jika . .
Nah kalo tadi itu kriteria pasangan yang harus dipertahankan, sekarang saya bakal lanjut ke kriteria pasangan yang harus ditendang, dibuang kelaut, atau disumbangkan kepada yang membutuhkan #eh. Oke langsung aja ke kriteria yang pertama :
Pasangan / Pacar Tukang Selingkuh
Waini! Jelas harus diputusin! Ditendang ke laut aja kalo punya pasangan kaya gini mah! Siapa sih yang mau diselingkuhi? Ada yang mau? Ya ampun, pasti sekolahnya gak pernah belajar yak? Hadeeehh (¬_¬") Biasanya sih alibinya begini:
Kalo udah terlanjur sayang gimana? *sambil mewek*
Yaah melek donk brosis! Buat apa kamu sayang ama "sesuatu" yang buruk? Kalo kamu sayang sama yang buruk - buruk, kapan kamu dapet yang baik? Ini buat kebaikan kita sendiri kok, mending dibuang aja! Coba pikir lagi deh, buat apa sayang kalo bikin nyesek terus? Nyiksa diri itu namanya. Seneng ya nyiksa diri? Melek brosis, di luaran sana masih ada yang lebih baik!
Tapi dia pacar / pasangan terbaik bagi aku *sambil mewek lagi*
Yaelaaahh. Gini aja deh, coba dipikir baik - baik! Kalau kamu menganggap seorang pengkhianat adalah yang terbaik untukmu, maka itu berarti kamu tidak menghargai dirimu sendiri! Dan kamu secara tidak langsung telah mencegah calon pasangan yang baik untuk datang kepadamu. Bisa dicerna? Ayo baca ulang kata - kata tadi kalo belum ngerti!
Intinya, seorang penghkianat dalam hal ini tukang selingkuh itu tidak pantas untuk dirindukan! Oke, rindu memang wajar, tapi sebisa mungkin gunakan logika mu untuk melawannya!
Pasangan / pacar tukang bohong
Ini hampir sama seperti tukang selingkuh. Kalo sering bohong berarti kata - katanya gak bisa dipercaya donk? Iya gak pemirsa? Nah kalau si dia udah sering ketauan bohongin kamu, udah lempar aja kelaut, cari yang baru! Buat apa kita pelihara tukang bohong? Coba dipikir, sama kata - katanya sendiri aja dia gak bisa jujur, gimana ama komitmen hubungan? Gausah nunggu sampe dia selingkuh, karena pasangan model begini harus cepet - cepet dicoret sebelum ngelunjak!
Pacar / pasangan tukang PHP
Yang ini khususnya buat para pemirsa yang cewek nih. PHP disini dalam arti gak memberi kepastian dalam kelanjutan hubungan. Ngerti kan maksudnya? Biasanya pasangan yang PHP itu sama aja kaya player (playboy atau playgirl) yang tukang boong, dan tukang selingkuh. Masuk kategori jelek banget deh pokoknya! Jadi inget, kamu jangan langsung percaya sama janji - janji si dia untuk "serius" sama kamu. Biasanya si tukang PHP keluarin janji macem itu hanya agar mendapat kepercayaan dari kamu. Kecuali dia bener - bener mau lamar kamu sih itu gak masalah kamu percaya. Tapi inget, meskipun udah di lamar, jangan mau diapa-apain sebelum nikah! Banyak loh modus kaya gitu yang akhirnya gajadi nikah.
Dan ujung-ujungnya udah ketauan, yang cewek bakal mewek berkepanjangan. Waspada ya sista! Untuk ciri - ciri PHP

KONSEP DIRI



KONSEP DIRI
Pada tanggal 12 Mei 2015 , mata kuliah Psikologi Pendidikan di kelas mempelajari materi Konsep diri yang pada hakikatnya adalah penggambaran diri.
Pengertian Konsep Diri
Konsep diri merupakan bagian penting dalam perkembangan kepribadian. Seperti dikemukakan oleh Rogers (dalam Hall & Lindzey, 1985) bahwa konsep kepribadian yang paling utama adalah diri. Secara umum, Greenwald et al., (dalam Campbell et al., 1996) menjelaskan bahwa konsep diri sebagai suatu organisasi dinamis didefinisikan sebagai skema kognitif tentang diri sendiri yang mencakup sifat-sifat, nilai-nilai, peristia-peristiwa, dan memori semantik tentang diri sendiri serta control terhadap pengolahan informasi diri yang relevan.
Konsep diri mengandung makna penerimaan diri dan identitas diri yang merupakan konsepsi inti yang relative stabil (Sullivan, dalam Leonard et al., 1995), namun dalam situasi interaksi social konsep diri bersifat dnamis (Capon & Owens, 2000), persepsi terhadap diri sendiri yang didasarkan pada pengalaman dari interprestasi terhadap diri dan lingkungan dan strktur yang bersifat multidimensional berkaitan dengan konsepsi atau penilaian individu tentang diri sendiri
Referensi : Prof. Dr. Syamsul Bachri Thalib, M. Si. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Kencana Prenada Media Group. Hal 121

Aspek Konsep Diri
Song dan Hattie (1984) menyatakan bahwa aspek-aspek konsep diri dibedakan menjadi konsep diri akademis dan konsep diri non-akademis. Konsep diri non-akademis dibedakan lagi menjadi konsep diri social dan penampilan diri. Jadi, pada dasarnya konsep diri mencakup aspek konsep diri akademis, konsep diri social, dan konsep diri penampilan diri.
Myers-Walls et al. (2000), dalam pandangannya tentang konsep diri secara implicit membedakan konsep diri atas dua kategori utama, yaitu konsep dri secara umum (general self-concept) dan konsep diri secara spesifik termasuk dalam kaitannya dengan bidang akademik, karier, atletik, kemampuan artistic, dan fisik. (Prof. Dr. Syamsul Bachri Thalib, M.Si. 2010. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis EmpirisAlokatif. Jakarta: Kencana  Prenada Media Group hal 123).
Perkembangan Konsep Diri
Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk melalui pengalaman individu dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam berinteraksi ini setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang diterima tersebut dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri, terutama didasarkan tanggapan orang penting dalam hidup anak, yaitu orang tua, guru, teman sebaya mereka. Jadi, konsep diri terbentuk karena suatu prosesumpan balik dari individu lain. Bila anak yakin bahwa orang-orang yang penting baginya menyenangi mereka, maka mereka akan berpikir positif tentang diri mereka dan sebaliknya.
Sebagaimana halnya dalam perkembangan pada umumnya, keluarga, khususnya orang tua berperan penting dalam prkembangan konsep diri anak. Konsep diri tebentuk dan atau berkembang secara gradual dalam proses pengasuhan termasuk intraksi interpersonal antara ibu-anak.
Selanjutnya, Friedman (1997) menjelaskan bahwa pengasuhan orang tua berdampak pada konstuk psikologis anak. Model pengasuhan yanngpermisitif dan otoritercenderung mengakibatkan konsep diri dan kompetensi social yang rendah. Pengasuhan dengan model otoritatif cenderung menghasilkan konsep diri, kompetensi social, dan independensi yang tinggi.
Berdasarkan telaah deskriptif dan analisis empiris mengenai konsep diri dapat dikemukakan bahwa factor-faktor yang memengaruhi konsep diri siswa mencakup factor keadaan fisik dan penilaian orang lain mengenai fisik individu; factor keluarga termasuk pengasuhan orang tua, pengalaman perilaku kekerasan, sikap saudara, dan status social ekonomi; dan factor lingkungan sekolah. (Prof. Dr. Syamsul Bachri Thalib, M.Si. 2010.
Referensi - Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis EmpirisAlokatif. Jakarta: Kencana  Prenada Media Group hal 124).
Fungsi konsep diri
Konsep diri merupakan filter dan mekanisme yang mewarnai pengalaman keseharian. Siswa yang menunjukkan konsep diri yang rendah atau negative, akan memandang dunia sekitarnya secara negative. Sebaliknya, siswa yang mempunyai konsep diri yang  tinggi atau positif, cenderung memandang lingkungan sekitarnya secara positif. Dengan  demikian, sudah menjadi consensus umum bahwa konsep diri positif menjadi factor penting bagi berbagai situasi psikologis dan pendidikan.
Konsep diri sebagai pandangan yang  dimiliki setiap orang mengenai dirinya sendiri yang terbentuk, baik melalui pengalaman maupun pengamatan terhadap diri sendiri, baik konsep diri secara umum (general self concept) maupun konsep diri secara spesifik termasuk konsep diri dalam kaitannya dalam bidang akademik, karier, atletik, konsistensi diri, dan kompleksitas diri yang terbuka untuk interprestasi sehingga secara umum berkaitan dengan pembelajaran dan menjadi mediasi variable motivasi dan pilihan tugas – tugas pembelajaran (syamsul bahri thalib. 122)
Konsep Diri dan Pengaruhnya Terhadap Tingkah Laku
Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan tingkah laku seseorang. Bagaimana seseorang memandang dirinya akan tercermin dari keseluruhan prilakunya. Artinya, prilaku individu akan selaras dengan cara individu memandang dirinya sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai orang yang tidak mempunyai cukup kemampuan untuk melakukan suatu tugas, maka seluruh perilakunya akan menunjukan ketidak mampuannya tersebut. Menurut Felker (1974), terdapat tiga peranan penting konsep diri dalam menentukkan perilaku seseorang, yaitu
Pertama, self-concept as maintainer of inner consistency yaitu konsep diri memainkan peranan dalam mempertahankan keselarasan batin seseorang. Kedua, self-concept as an interpretation of experience yaitu konsep diri menentukkan bagaimana individu memberikan penafsiran atas pengalamannya. Ketiga, self-concept as set of expectation yaitu konsep diri juga berperan sebagai penentu pengharapan individu. (Dra. Desmita M.Si, hal.169).

Konsep Diri yang Sehat
Dalam teori Psikoanalisis, proses perkembangan konsep diri disebut proses pembentukan ego (the process of ego formation). menurut aliran ini, ego yang sehat adalah ego yang dapat mengontroldan mengarahkan kebutuhan primitif (dorongan libido) supaya setara dengan dorongan dari super ego serta tuntutan lingkungan.
Untuk mengembangkan ego atau diri (self) yang sehat adalah dengan memberikan kasih sayang yang cukup dan dengan cara orangtua menunjukkan sikap menerima anaknya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, terutama pada tahun-tahun pertama perkembangannya.
Referensi : (prof Dr H Djaali Psikologi Pendidikan PT Bumi Aksara jkt : 2014 hlm 130).
Hubungan antara Konsep Diri dan Prestasi Sekolah
Sejumlah ahli psiklogi dan pendidikan berkeyakinan bahwa konsep diri dan prestasi belajar mempunyai hubungan yang erat. Nylor (1972) misalnya, mengemukakan bahwa banyak penelitian yang membuktikan hubungan positif yang kuat antara konsep diri dan prestasi belajar di sekolah. Siswa yang mempunyai konsep diri positif, memperlihatkan prestasi yang baik di sekolah, atau siswa yang berprestasi tinggi di sekolah memiliki penilaian diri yang tinggi, serta menunjukan hubungan antarpribadi yang positif pula. Mereka menentukan target prestasi belajar yang realistis dan mengarahkan kecemasan akademis dengan belajar keras dan tekun, serta aktivitas-aktivitas mereka selalu diarahkan pada kegiatan akademis. Mereka juga memperlihatkan kemandirian dalam belajar, sehingga tidak tergantung pada guru semata.

Untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan prestasi belajar, Fink (dalam Burnes, 1982) melakukan penelitian dengan melibatkan sejumlah siswa laki-laki dan perempuan yang dipasangkan berdasarkan tingkat intelegensi mereka. Di samping itu, mereka digolongkan berdasarkan prestasi belajar mereka, yaitu kelompok berprestasi lebih (overachievers) dan kelompok berprestasi kurang (underachievers).  Hal penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan konsep diri antara siswa yang tergolong overachievers dan underachievers. Siswa yang tergolong overachievers menunjukan konsep diri yang positif, dan hubungan yang erat antara konsep diri dan prestasi belajar terlihat jelas pada siswa laki-laki.
Penelitian Walsh (dalam Burns, 1982), juga menunjukan bahwa siswa-siswa yang tergolong underachievers mempunyai konsep diri yang negatif, serta memperlihatkan beberapa karakteristik kepribadian; 1) mempunyai perasaan dikritik, ditolak dan diisolir; 2) melakukan mekanisme pertahanaan diri dengan cara menghindardan bahkan bersikap menentang; 3) tidak mampu mengekspresikan perasaan dan perilakunya. (Dra. Desmita, M.Si, hal. 182)

Jumat, 01 Mei 2015

TEORI BELAJAR PSIKOLOGI PENDIDIKAN PERTEMUAN 28 APRIL 2015



Nama   : Istihani Arofah
Nim     : 11140182000050
Manajemen Pendidikan (2B)
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri  (UIN) Jakarta
Hasil pembelajaran pada 28 April 2015

TEORI BELAJAR

Hari ini (28 April 2015)  saya telah mempelajari macam-macam teori belajar. metode yang diterapkan  dosen untuk mengajar kami di kelas sangat menyenangkan. Mahasiswa selalu diikut sertakan untuk menghidupi kelas. Jadi suasana kelas tidak hening dan tidak hanya suara dosen yang terdengar. Namun kicauan mahasiswa pun tak kalah menghidupi ruang kelas.
Yang pertama saya pelajari di kelas bersama teman seperjuangan adalah mengenai apa saja sih teori belajar itu? Ada teori belajar behaviorisme, teori belajar kognitif,teori belajar humanisme, dan teori belajar konstruktivisme.

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME
Behavior dalam psikologi atau juga disebut behaviorisme adalah aliran teori pembelajaran yang didasarkan pada tingkah laku yang diperoleh dari pengkondisian lingkungan misalnya seorang pelajar belum dikatakan berhasil dalam belajar ilmu pengetahuan sosial jika dia belum bisa melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat.
TOKOH-TOKOH TEORI BEHAVIORISME
1.      Ivan pavlov
2.      John Watson
3.      Edward Lee Thorndike

APLIKASI TEORI BEHAVIORISTIK DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Aplikasi ini memandang pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap, dan disusun dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan. sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar. menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output berupa respon. aliran ini menekankan terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar
KEKURANGAN DAN KELEBIHAN TEORI BEHAVIORISME
Kekurangan :
1.      Pembelajaran hanya terpusat pada guru
2.      Peserta ddik hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru
3.      Peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi
Kelebihan :
1.      Sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan
2.      Materi yang diberikan sangat detail
3.      Membangun konsentrasi pikiran dalam teori ini adanya penguatan dan hukuman dirasa perlu
TEORI BELAJAR KOGNITIF
Teori belajar kognitif adalah bagian terpenting dari sains kognitif yang telah memberi kontribusi yang berarti dalam perkembangan psikologi pendidikan. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental seperti motivasi, kesenjangan, keyakinan, dan sebagainya.
TOKOH-TOKOH TEORI BELAJAR KOGNITIF
1.      Cognitive field (kurt lewin)
2.      Cognitive development (Piaget)
3.      Teori Benyamin S.Bloom
TEORI BELAJAR HUMANISME
Teori ini terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri
TOKOH-TOKOH TEORI BELAJAR HUMANIS
1.      Combs
2.      Maslov
3.      Rogers
TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME
Teori ini dedefinisikan sebagai pembelajaran yang mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari menurut teori ini, guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa namun siswa juga berperan aktif membangun sendiri pengetahuan didalam memorinya.
TOKOH-TOKOH TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME
1.      Driver dan Bell
2.      J.J Piaget
3.      Tasker

Sabtu, 25 April 2015

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Istihani Arofah
11140182000050
Manajemen Pendidikan (2B)
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2015



Definisi Psikologi Pendidikan
Sebelum mengulas mengenai definisi psikologi pendidikan, mari terlebih dahulu kita bahas definisi dari Psikologi dan Pendidikan.
Psikologi berasal dari bahasa Inggris yaitu psychology yang merupakan bersumber dari dua akar bahasa yunani (1) psyche yang berarti jiwa (2) logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi memang berarti ilmu jiwa.
Psikologi didefinisikan sebagai “ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara melakukan sesuatu, dan juga memahami cara makhluk hidup tersebut berpikir dan berperasaan” (Gleitman 1986). Saya setuju mengenai definisi ini karena dalam kajian ilmu jiwa mayoritas menekankan pada bagaimana perilaku manusia? Baik dari pikirannya, maupun dari sisi spiritual atau perasaannya. Dan juga hal-hal yang kadang terlihat sederhana pun menjadi objek kajian psikologi seperti Tuti tetap mengingat bagaimana cara memasak meskipun sudah 5 tahun dia tidak pernah memasak.
Pendidikan didefinisikan “the total process of developing human abilities and behavior, drawing on almost all life experiences” (Tardif 1987) dalam bahasa Indonesia “seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia, juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan”. Saya sependapat dengan definisi ini karena pendidikan merupakan proses dimana manusia dapat mengembangkan kemampuannya, seperti contoh Tuti sekolah di SD A awalnya dia hanya mampu berhitung dalam penjumlahan, kini sudah meningkat kemampuannya hingga dia mampu berhitung dalam perkalian dan pembagian. Pendidikan  mendidik seseorang agar baik dalam berperilaku baik dalam lingkungan sosial maupun lingkungan non-sosial. pendidikan bukan hanya berlaku di sebuah lembaga pendidikan, namun meliputi seluruh pengalaman kehidupan. Sebagaimana pepatah “belajar dari pengalaman”.
Jadi, psikologi pendidikan adalah “sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan” (Tardif 1987) menurut saya, sebagaimana dengan definisi psikologi, psikologi pendidikan merupakan suatu ilmu terapan dari psikologi yang menitikberatkan pada pengetahuan mengenai perilaku manusia yang menjadikan usaha-usaha kependidikan sebagai objek utamanya seperti tahapan-tahapan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), situasi maupun tempat KBM, dan hasil-hasil yang dicapai dari proses KBM.
Referensi :
 Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014 , hlm 7



Manfaat Psikologi Pendidikan


Selain bermanfaat untuk mengajar, manfaat psikologi pendidikan yang lain yaitu :
a.       Dengan psikologi pendidikan, pendidik diarahkan menjadi tenaga pengajar yang profesional dan kompeten sesuai dengan perkembangan zaman.
b.      pendidik dapat menemukan dan menetapkan tujuan-tujuan pengajaran sesuai dengan kemampuan psikologisnya
c.       Dengan psikologi pendidikan, menjadikan pendidik  berupaya memahami keadaan dan perilaku peserta didik yang dimana satu sama lain pasti berbeda. Bahkan dua anak yang kembar-pun belum dipastikan memiliki respon yang sama terhadap situasi belajar mengajar di sekolah.
d.      Melalui psikologi pendidikan, pendidik dapat mendidik peserta didik melalui proses belajar mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna.
e.       Pendidik dapat memberikan layanan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada peserta didik dengan pendekatan yang relefan dengan tingkat perkembangannya
f.       Psikologi pendidikan tidak hanya diperlukan untuk calon guru atau guru yang sedang bertugas di lembaga pendidikan. Para dosen di perguruan tinggi, orangtua dan  kiai dipesantren juga memerlukan pengetahuan psikologi pendidikan untuk mengetahui bagaimana respon anak dalam pengajaran, serta bagaimana perkembangannya.
g.      Psikologi pendidikan membantu untuk merencanakan bahan ajar atau materi dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai
h.      Pendidik dapat mengatasi emosionalnya dalam mendidik peserta didik
i.        Pendidik mampu menganalisis kelemahan dan kelebihan peserta didik.
j.        Pendidik mampu merumuskan metode-metode yang tepat untuk mengatasi peserta didik baik dalam permasalahan negatif maupun positif.
k.      Pendidik dapat mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan timbulnya kesulitan belajar peserta tertentu
l.        Dapat mempertimbangkan waktu yang tepat dalam memulai aktifitas proses belajar mengajar bidang studi tertentu
m.    Mampu membantu memecahkan permasalahan siswa dalam belajar
n.      Memudahkan penerapan pengetahuan, pendekatan dan komunikasi kepada anak didik
o.      Membantu menciptakan suasana edukatif yang efektif
 

Metode yang memudahkan untuk mempelajari psikologi pendidikan

Metode merupakan cara yang ditempuh untuk melakukan sesuatu. Dalam psikologi pendidikan, metode-metode digunakan untuk mengumpulkan berbagai data dan informasi penting yang bersifat psikologis dan berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Metode-metode dalam psikologi pendidikan adalah metode eksperimen, metode kuesioner, metode studi kasus, metode penyelidikan klinis, dan metode observasi naturalistik.
Menurut saya, semua metode baik dan memudahkan kita untuk mempelajari psikologi pendidikan. Semua metode diterapkan dengan kondisi dan situasi yang tepat.
No
Metode psikologi pendidikan
Penerapannya
1
Metode Eksperimen
Apabila simpulan yang ditarik dari sebuah penelitian dengan metode kuesioner misalnya, menimbulkan keraguan atau masalah baru  maka dilakukanlah metode eksperimen ini
2
Metode kuesioner
Uji coba dengan tujuan untuk memastikan apakah kuesioner itu relevan untuk dijawab sesuai dengan tahapannya.

3
Metode studi kasus
Penelitian digunakan untuk memeroleh gambaran rinci yang mengenai aspek-aspek psikologi seorang siswa atau sekelompok siswa tertentu.
4
Metode penyelidikan klinis
Diberlakukan untuk menyelidiki anak atau siswa yang mengalami penyimpangan psikologis tak terkecuali penyimpangan perilaku.
5
Metode observasi naturalistik
Observasi yang dilakukan secara ilmiah oleh seorang guru untuk memantau siswa
Referensi :
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014 , hlm 27


Yang Menyenangkan dalam mempelajari pertumbuhan dan perkembangan

Hal-hal yang menyenangkan pada saat mempelajari pertumbuhan dan perkembangan di kelas yang saya rasakan sendiri  adalah Dosen  memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk ikut serta aktif berdiskusi dengan kelompoknya masing-masing dan dipresentasikan di depan kelompok lainnya membuat mahasiswa tidak mengalami kejenuhan saat belajar, dan menambah wawasan mahasiswa mengenai pertumbuhan dan perkembangan karena masing-masing kelompok mempresentasikan materi yang berbeda. 

Teori Belajar
Menurut buku  Psikologi pendidikan penulis muhibbin syah, Secara pragmatis teori belajar dapat dipahami sebagai “prinsip atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar”
Menurut wikipedia, Belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadimerupakan teori-teori belajar. Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran
Macam-macam Teori Belajar menurut buku Psikologi Pendidikan penulis muhibbin syah terdapat 3 Teori pokok yaitu. Pertama, teori koneksionisme adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874 – 1949) berdasarkan eksperimen  yang ia lakukan pada tahun 18990-an yang menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar. Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar berbentuk otak berjeruji yang dilengkapi  peralatan, seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut. Peralatan ini ditata sedemikian rupa sehingga memungkinan kucing tersebut memeroleh makanan yang tersedia di depan sangkar tadi.
Keadaan bagian dalam sangkar yang disebut puzzle box itu merupakan situasi stimulus yang merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan diri dan memeroleh makanan yang ada dimuka pintu. Mula-mula kucing tersebut mengeong, mencakar, melompat, dan berlari-larian, namun gagal membuka pintu untuk memeroleh makanan yang ada didepannya. Akhirnya entah bagaimana secara kebetulan kucing itu berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut. Eksperimen puzzle box ini kemudian terkenal dengan nama instrumental conditioning artinya tingkah laku yang dipelajari berfungsi berbagai instrumental untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki (Hintzman,1978).
Referensi :
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014 , hlm 103
Simpulan yang saya ambil dari teori yang pertama ini adalah kucing yang lapar berusaha keras untuk keluar dari puzzle box dan mengambil makanan itu diibaratkan seperti manusia yang termotivasi untuk belajar. Dan betapa berpengaruhnya motivasi terhadap belajar. Andaikan saja kucing tadi tidak lapar. Pasti tidak akan mau dan bekerja keras mengambil makanan itu. Seperti halnya manusia jika tidak termotivasi pasti tidak akan bekerja keras untuk belajar.
Kedua, teori pembiasaan klasik yang berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (849 – 1936) pada dasarnya teori ini adalah prosedurpenciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut (Terrace, 1973). Dalam eksperimennya, pavlov menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan-hubungan antara conditioned stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR) dan unconditioned response (UCR) CS adalah rangsangan yang mamapu mendatangkan response yang dipelajari sedangkan respon ynang dipelajari itu sendiri disebut CR. UCS berarti rangsangan yang menimbulkan respons yang tidak dipelajari, dan respons yng tidak dipelajari adalah UCR. untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini :

Simpulan yang saya ambil dari teori yang kedua ini adalah semakin jelas bahwa belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya stiulus dan respons.
        Ketiga, teori pembiasaan perilaku respons (operant conditioning) Ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh dikalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Penciptanya bernama Burrhus Frederic Skinner.
         Operant adalah sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat (Reber,1980) respons pada operant ini terjadi tanpa didahului oleh stimulus melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer (stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya) proses belajar dalam teori operant conditioning tunduk kepada dua hukum operant yang berbeda. Yakni law of operant conditioning (jika tingkah laku operant di iringi dengan stimulus penguat, maka kekuataan stimulus tersebut akan meningkat.) dan law of operant extinction (jika timbulnya tingkah laku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiingi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut menurun atau bahkan musnah. (hintzman,1987) )
            Saya menyimpulkan dari ketiga teori diatas, bersifat behavioristik dalam arti lebih menekankan timbulnya perilaku jasmaniah yang tampak dan kuantitatif. Dari ketiga teori belajar diatas, mempunyai keelemahan diantaranya proses belajar manusia yang dianalogikan dengan hewan itu sangat sulit diterima, mengingat banyak perbedaan yang mencolok baik dari fisik, dan psikis antara manusia dengan hewan. poses belajarnya hanya dilihat dari luar padahal proses belajar sesungguhnya kegiatan mental yang tidak dapat dilihat dari permukaan saja, dan proses belajar menurut teori ini adalah terkesan gerakan mesin atau robot padahal siswa mempunyai kemampuan untuk mengarahkan dirinya sendiri.
          Teori belajar yang lain yaitu  Teori belajar Behaviorisme adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
          Analisis saya mengenai teori ini adalah proses, dan hasil belajar peserta didik hanya dilihat dari bagaimana dia berperilaku dan apa yang tampak dari hasil belajarnya saja. Tanpa mengikutsertakan faktor dalam. Dan juga Teori behavioristik merupakan teori belajar yang lebih menekankan pada perubahan tingkah laku serta sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Contoh, seorang anak mampu berhitung penjumlahan dan pengurangan, meskipun dia belajar dengan giat tetapi dia masih belum bisa mempraktekkan penjumlahannya, maka ia belum bisa dikatakan belajar karena ia belum menunjukkan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari belajar. 
Selain teori-teori dia atas, terdapat 2 teori lagi yaitu Teori  Belajar kognitivisme dan Teori Belajar Konstruktivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Peneliti yang mengembangkan teori kognitif  ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
Analisis saya mengenai teori ini adalah sebuah proses dengan bantuan praktek atau kerja nyata dalam rangka membantu kecerdasan intelektual siswa. Pada teori ini pendidik ditutut untuk memberikan proses pembelajaran yang lebih luas agar siswa mampu mengembangkan kualtias inteleketualnya. Contohnya pada pelajaran di SD siswa mampu menemukan sebuah masalah dan mencari sendiri pemecahan masalahnya. Misalnya dalam materi tentang struktur bunga, guru bisa menyuruh siswa untuk mencari bunga yang strukturnya lengkap (seperti bunga kembang sepatu) lalu meyuruh siswa untuk mendiskusikan untuk dapat menentukan dengan benar nama setiap bagian-bagian bunga, dan mampu menunjukan bagian-bagiannya itu.
Teori belajar  konstruktivisme berasal dari katato construct” yang artinya membangun atau menyusun. Menurut Carin (dalam Anggriamurti, 2009) bahwa teori konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang menenkankan bahwa para siswa sebagai pebelajar tidak menerima begitu saja pengetahuan yang mereka dapatkan, tetapi mereka secara aktif membangun pengetahuan secara individual.
Analisis saya mengenai teori ini adalah sebuah teori yang bersifat menerangkan. Yaitu tindakan mencipta suatu makna dari apa yang dipelajari. Dalam proses pembelajaran, suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental, membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang dimilikinya. Misalnya dalam materi pembelajarann IPA SD tentang struktur dan bagian tubuh manusia, guru menyuruh siswa untuk menunjukkan sendiri bagian-bagian tubuhnya seperti, kepala, tangan, kaki, dll. Secara tidak langsung siswa sudah menerapkan sistem pembelajaran yang berpusat pada dirinya.
Intelegensi

Intelegensi adalah situasi kecerdasan pikir, dan sifat-sifat perbuatan cerdas. Pada umumnya  intelegensi ini dapat dilihat dari dapat dilihat dari kesanggupannya bersikap dan berbuat cepat dengan situasi yang sedang berubah dengan keadaan di luar dirinya yang biasa maupun yang baru. Jadi, perbuatan cerdas dicirikan dengan adanaya kesanggupan bereaksi terhadap situasi dengan kelakuan baru yang sesuai dengan kedaan baru.
Semua orang sebenarnya memiliki Multiple intelegency (kecerdasan majemuk), hanya masing-masing orang mempunyai intelegency yang menonjol dan itu berbeda-beda. Macam-macam intelegency ada delapan yaitu : word smart, logic smart, nature smart, picture smart, body smart, music smart, interpersonal, dan intrapersonal. Dari ke-delapan multiple intelegency tersebut yang paling mendominasi saya adalah Interpersonal intelegency (people smart)  dengan alasan sesuai dengan pendapat teman-teman terdekat saya, mereka berpendapat bahwa saya mudah bergaul dan mempunyai banyak teman. Ada pula yang berpendapat saya lebih dominan dengan music smart  dengan alasan saya bisa menyanyi dengan baik dan menyukai dunia musik walaupun saya tidak bisa memainkan musik.
Cara mengembangkan interpersonal skill, dimulai dari berkomunikasi dengan diri sendiri, mengenali pola pikir masing-masing, menyadari kekuatan perubahan, ikut serta menangani konflik-konflik yang dialami orang terdekat saya untuk memperlancar komunikasi antar kedua pihak dan masalah dapat terselesaikan, mengatasi persepsi negative karena hal ini dapt membantu kita untuk berpikir dahulu sebelum menyertakan emosi, perbanyak belajar karena pengetahuan mempunyai peran penting dalam komunikasi dan juga membangun hubungan,menerima pesan dengan baik dengan cara mendengarkan, memperbanyak bertemu dengan orang-orang baru akan melatih dan mengembangkan interpersonal skill, menekan ego pribadi, dan memperhatikan bahasa non-verbal.
Motivasi
Motivasi adalah keadaan internal organisme untuk berbuat sesuatu dalam pengertian ini, motivasi adalah pemasok daya untuk bertingkah laku secara terarah (Gleitman,1986; Reber, 1988)
Menurut saya, Motivasi  adalah keseluruhan rangsangan baik itu dari luar diri maupun dalam diri dengan melakukan suatu rangkaian usaha untuk mempersiapkan kondisi tertentu yang mengarahkan pada kegiatan tertentu sehingga tujuannya dapat tercapai
            Motivasi internal yang memengaruhi saya untuk belajar di jurusan Manajemen Pendidikan adalah  minat saya untuk menjadi manajer dan memajukan pendidikan di Indonesia,bakat saya dalam interpersonal skill membuat saya yakin menjadi manajer adalah tepat buat saya,  jika motivasi internal tentang kesehatan jasmani saya rasa belum sepenuhnya membuat saya termotivasi untuk belajar karena kondisi kesehatan saya yang kurang.
            Motivasi eksternal yang memengaruhi saya untuk belajar di jurusan manajemen pendidikan adalah Orang tua yang selalu mensupport saya baik dari doa, finansial, dan dukungan lainnya walaupun kami terbentang jarak yang lumayan jauh dari Tegal ke Ciputat, dosen yang menyenangkan akan membuat saya termotivasi untuk belajar di jurusan saya meskipun kebanyakan dosen itu kurang menyenangkan terkadang saya merasa malas tetapi ketika saya ingat tidak ingin ngecewain orang tua dari situ aku lawan kemalasan saya dan kembali termotivasi untuk belajar, teman yang peduli dan saling memotivasi juga termasuk salah satu faktor saya termotivasi untuk belajar di jurusan ini. Buku yang tersedia sebagai media belajar juga sangat di perlukan saya untuk memotivasi belajar. lingkungan fisik seperti keadaan cuaca yang normal membuat saya termotivasi untuk belajar.
Teori Belajar yang Saya Suka
Teori Belajar yang Saya Suka dan Teori belajar yang cocok untuk jurusan saya adalah teori konstruktivisme karena dalam teori ini,apa yang telah kita pelajari akan bermakna dan dalam proses belajar mahasiswa aktif secara mental, membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang dimilikinya.
Ciri-ciri guru behaviorisme
       Seorang guru behaviorisme menerapkan pembelajaran yang berpusat pada guru itu sendiri sebagai sumber informasi/media pembelajaran, terkadang guru behavioristik kurang adil karena dia melihat hasil belajar di akhir tanpa melihat bagaimana prosesnya begitupun dengan latihan tanpa harus dengan pemahaman. Guru behavioristik menerapkan banyak aturan. Seorang guru  behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Guru harus segera memberitahukan hasil belajar kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
Ciri-ciri guru humanisme
      Guru humanisme memiliki ketrampilan membangun dan menjaga relasi yang hangat dengan siswa, membuat pembelajaran yang membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat, berimajinasi, mempunyai pengalaman, berintuisi, merasakan, dan berfantasi. Guru humanisme menjadi fasilitator bagi para siswa dan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Dan guru humanisme mengakui, menghargai dan menerima siswa apa adanya, tidak membodoh-bodohkan siswa, terbuka menerima pendapat dan pandangan siswa tanpa menilai atau mencela, terbuka untuk komunikasi dengan siswa, dan tidak hanya menghargai potensi akademik, memberi keamanan psikologis,  memberi pengalaman sukses kepada siswa; untuk aktivitas-aktivitas kreatif guru tidak banyak memberikan aturan,  menceritakan pengalaman, menulis cerita, menghargai usaha, imaginasi, fantasi dan inovasi siswa, dan stimulasi banyak buku bacaan.